Bubur sumsum teman ngobrol yang manis

Sahabat pernahkah anda menikmati makan bubur sumsum bersama keluarga, sanak family, kerabat atau teman – teman dekat?
Klo belum, maka tak ada salah sahabat untuk mencobanya. Pasti obrolan akan semakin hangat dan manis. Tulisan saya kali ini ditujukan membuka cakrawala baru dalam menikmati bubur sumsum. Apakah masih terpikir dalam benak sahabat bahwa bubur sumsum itu ya hanya jajanan ringan untuk balita dan kakek – nenek? hehe... cobalah untuk lebih santai sahabat. Ternyata bubur sumsum atau dalam bahasa tetangga disebut dengan istilah Indonesian Rice Pudding memiliki filosofi yang mendalam.

Filosofi bubur sumsum
Warna putih dari bubur itu mencerminkan kesucian hati, tekstur yang lembut dan kental dalam buburnya mencerminkan kelemahan, dan rasa manis yang dihasilkan dari kuah merah kekuning – kuningannya itu mencerminkan kesejahteraan atau kekuatan. Ya betul dalam bubur sumsum terdiri dari 2 unsur yaitu: bubur dan sumsum. 2 unsur ini adalah sepaket, artinya jika ada 1 yg tidak hadir maka nilai hikmahnya kurang. Enaknya makan bubur ya saat ada sumsumnya dan enaknya minum sumsum ya saat ada buburnya [kurang lebih seperti itu]. Dalam tradisi masyarakat jawa, makanan jenis ini sering disediakan di acara – acara pernikahan. Dengan harapan agar rumah tangga pasangan semakin kuat dan sejahtera saat bersama.


Nah sekarang sahabat sudah mengerti kan apa itu filosofi dari bubur sumsum. Selain dikenal sebagai makanan khas Solo, bubur sumsum menyimpan hikmah yang mendalam, sarat akan nilai – nilai kehidupan. Oleh karena itu, hadirkan bubur sumsum dikala sahabat sedang ngobrol/ngrumpi dengan teman sekitar. Apalagi saat bubur disajikan dalam keadaan hangat... dijamin deh obrolannya akan semakin menyenangkan... 
Selamat mencoba~

0 komentar:

Posting Komentar