Yang pertama, aku
panjatkan syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT karena di umur yg seperempat
abad ini aku masih diperkenankan olehNya menikmati ramadhan 1437 H. Sebuah
kegembiraan dan kesyukuran yang luar biasa dapat dipertemukan dengan bulan yang
penuh kemuliaan ini.
Gimana kabar ramadhanmu sahabat??
Coba bayangkan, di
bulan ini banyak pahala diobral, setan dibelenggu, pintu taubat dibuka, ampunan
Allah dimudahkan, dimana – mana denger bacaan Qur’an, dan ta’jil puasa J hehe
Gimana kabar ramadhanmu sahabat??
Nah, bicara tentang
ta’jil puasa aku punya kisah menarik sendiri. Bisa dibilang ini kisah heroik
penjemputan ta’jil atau mau dimaknai dengan tak kenal malu juga ga apa-apa,
hehe...
Kisah ini terjadi
di ramadhan hari ke 13 tanggal 18 Juni 2016 saat aku dan temanku (sebut saja
mas eka) mengantar motor ke rumah temannya mas eka yang ada di belakang kampus
Undip. Singkat cerita sepulangnya dari mengembalikan motor, kami jalan – jalan
(read: ngabuburit) sekalian menghabiskan waktu sore. Saat di jalan aku dan mas
eka berdiskusi untuk memutuskan warung makan buat buka puasa. Diskusi yang alot
pun terjadi, sampai mulut kami berdua berbusa – busa. Dikarenakan waktu buka
tinggal 10 menit diskusi pun akhirnya mendapat kesimpulan bahwa kami akan mencari
ta’jil di masjid terdekat. Masjid Diponegoro lah tujuan kami untuk berbuka
puasa dan menunaikan sholat maghrib.
Gimana kabar ramadhanmu sahabat??
Dari dalam masjid
nampak orang – orang berlalu lalang untuk menempatkan diri duduk di teras. Aku
dan mas eka pun segera mengikuti mereka untuk duduk – duduk. Tak berapa lama
keluarlah takmir masjid untuk membagikan ta’jil, dalam hati aku berkata,
“alhamdulillah akhirnya bisa berbuka puasa”. Ada 3 macam jenis ta’jil yang
diberikan takmir masjid yaitu kurma, air putih dan roti bolu. Kurma adalah buah
yang biasa dimakan Nabi saat buka puasa, air putih untuk menyiram tenggorokan
dan roti bolu untuk pemanisnya, hehe.. ya mungkin itulah filosofi yang
diharapkan takmir.
Gimana kabar ramadhanmu sahabat??
Adzan maghrib pun
berkumandang waktu penanda berbuka pun terdengar aku dan mas eka melahap habis
rezeki tersebut dan menikmati tiap potongan makanan yang masuk ke mulut. Sembari
melahap ta’jil aku mencermati orang-orang di sekitarku. Tampak wajah senang dan
penuh kesyukuran terpancar dari orang-orang di sekitar kami. Walaupun ta’jil
Cuma dengan 3 jenis makanan tapi kegembiraan dan kesyukuran tercermin dari
wajah mereka. Ah disitulah ternyata
berkah puasa, disitulah indahnya bulan ramadhan.
Gimana kabar ramadhanmu sahabat??
Selepas berbuka
kami semua antri mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat maghrib. Iqomah
pun berkumandang tanda sholat akan ditegakkan. Shof sholat tampak rapi rapat
seperti pagar rumah yang kokoh, sholat maghrib pun terlaksana dengan khidmat.
Gimana kabar ramadhanmu sahabat??
Setelah
melaksanakan sholat maghrib aku dan mas eka berencana pulang ke kos akan tetapi
kami menjumpai para jama’ah sholat mengantri untuk mengambil makan berat.
Apakah sahabat tahu kira – kira apa menu makannya?? menunya adalah sate....
hmmm. Makanan yang cukup istimewa buat kami para mahasiswa sekaligus jomblo muda.
Karena yang lain mengantri, maka aku dan mas eka ikut mengantri. Saat tiba urutanku lalu aku hendak
mengambil sate tiba-tiba keluar pertanyaan dari panitia,”Mas kuponnya mana?”
Sontak reflek aku gugup dan menjawab,”e... tidak ada mas”. Lalu takmir pun
menimpali,”klo tidak membawa mas duduk disebelah saya nunggu sampai antrian
terakhir. Jika masih ada sisa sate itu boleh buat mas berdua”. Raut mukaku dan
mas eka berubah pertanda malu. Dan karena kami melihat antrian masih panjang
maka kami putuskan untuk tidak menerima tawaran kakak takmir tadi. Kami hanya
bilang,"terima kasih mas, ini kami lanjutkan perjalanan saja takut keburu malam sampai
kos". Hehe... pastinya itu adalah alasan sekaligus cara untuk menghindari dari
rasa malu yang merasuk sampai ke hati.
Gimana kabar ramadhanmu sahabat??
Akhirnya kami
berdua putuskan untuk cabut dari masjid menuju kosan yang masih harus menempuh
perjalanan 30 menitan. Di tengah perjalanan kami berhenti di angkringan untuk
menyantap makan malam sego kucing,
teh manis dan beberapa gorengan dengan total pengeluaran berdua Rp 19.500.
Cukup murah meriah bukan... Meskipun di jalan agak menggerutu ya yang pasti ‘tak
dapat sate, sego kucing pun jadi’
wkwkwk
0 komentar:
Posting Komentar